Sabtu, 28 Maret 2026

My Hero Academia Final Season: Tentang Hal Kecil yang Berefek Besar

Halo para pembaca!

Di postingan kali ini, aku ingin membahas salah satu anime yang baru saja selesai kutonton sampai tamat, yaitu Boku no Hero Academia atau My Hero Academia. Final season dari anime ini mulai dirilis pada Oktober 2025 dan menjadi salah satu anime yang membekas bagiku. Anime ini pertama kali kutonton saat aku masih kuliah (mungkin sekitar tahun 2017 atau 2018) karena ada salah satu teman sekelas yang merekomendasikan anime ini. Pada saat itu, aku cukup ketagihan menonton My Hero Academia, tetapi sempat berhenti di season 4 akhir (school festival arc) karena tensi ceritanya yang sedang turun sehingga kurang menarik bagiku. Aku tidak melanjutkan menonton anime ini lagi sampai di November tahun lalu mendapatkan informasi bahwa My Hero Academia sudah sampai di final season. Karena penasaran dengan akhir ceritanya, akhirnya aku mulai maraton melanjutkan menonton dari school festival arc season 4 sampai selesai, haha.

My Hero Academia menceritakan perjalanan seorang remaja bernama Izuku Midoriya (Deku) yang ingin menjadi pahlawan (hero) terhebat. Kisah ini berlatarkan zaman ketika lebih dari 80% populasi manusia memiliki kemampuan khusus yang disebut "quirk" (contoh: mengendalikan air, membuat benda menjadi melayang, dll). Dengan adanya quirk, ada orang-orang yang menyalahgunakannya untuk bertindak kriminal. Akibatnya, muncullah profesi pahlawan atau 'hero', profesi yang menertibkan dan melindungi masyarakat dengan memanfaatkan quirk. Deku yang quirkless (tidak memiliki quirk) mendapatkan quirk warisan dari All Might, pahlawan nomor 1 di Jepang. Walau begitu, Deku perlu berjuang jauh lebih keras dibanding orang lain untuk bisa mengendalikan dan memanfaatkan quirk warisan tersebut (One for All atau OFA) agar bisa menjadi pahlawan terhebat.

Sejujurnya, aku tidak bisa membandingkan sebagus apa anime ini dengan anime-anime lainnya, dan tidak bisa mengatakan juga bahwa ini adalah anime terbaik karena memang aku sudah jarang sekali menonton anime. Walau begitu, aku bisa mengatakan bahwa aku sangat takjub, puas, menikmati, dan tidak menyesal untuk menamatkan anime ini. Nah, di postingan kali ini, aku bukan akan membuat ringkasan cerita dari My Hero Academia, melainkan akan sedikit berbagi tentang hal-hal yang membuatku jatuh cinta dengan My Hero Academia, khususnya di final season ini.

Sebelumnya, kalian yang sudah menonton anime ini mungkin sudah sering mendengar komentar orang-orang bahwa Deku adalah gambaran tokoh utama yang benar-benar menunjukkan from zero to hero. Sebelum berhasil menerima quirk warisan (OFA) dari All Might, Deku harus berlatih fisik dengan keras agar tubuhnya cocok menerima quirk tersebut; belajar mengendalikan kekuatan yang dikeluarkan; dan tidak punya privilege dari orangtuanya (bukan dari keluarga hebat ataupun berbakat). Ya, karakter Deku sang tokoh utama adalah salah satu yang aku suka dari anime ini.

Deku (season 1) saat pertama kali dilatih All Might untuk
mempersiapkan tubuhnya sebagai "wadah" OFA

Deku mendapatkan pengumuman bahwa dirinya lulus ujian masuk
U.A. Academy


Deku sebagai pewaris OFA generasi ke-9 yang (akhirnya) berhasil mengalahkan AFO bukanlah remaja yang sejak awal berbakat ataupun memiliki kemampuan bertarung yang sangat hebat. Deku berproses dari seorang yang quirkless hingga menjadi orang yang mampu mengalahkan villain terbesar (dengan bantuan hero-hero lain tentunya). Sebelum mendapat OFA, Deku yang quirkless sudah terbiasa untuk menganalisis quirk milik pro hero maupun orang-orang yang dikenalnya (dan sampai punya buku catatan sendiri yang berjilid-jilid tentang ini!). Karena sudah terbiasa menganalisis, maka ketika ia diwariskan OFA, Deku bisa punya banyak cara kreatif untuk memanfaatkan quirk-nya (dan ini juga berproses). Dari sosok Deku, aku belajar bahwa dalam keadaan paling terpuruk pun (quirkless), sebenarnya kita masih bisa melakukan hal-hal untuk mengembangkan potensi dalam diri kita. Karakter Deku mengajarkan banyak hal tentang kerja keras, kebaikan hati, kreativitas, keseriusan terhadap sesuatu yang disukai, dan tidak mudah menyerah. Deku bisa menjadi sosok main character yang bisa 'mengalahkan' AFO dan Shigaraki di akhir karena melewati proses yang panjang dengan usaha yang luar biasa keras. 

"I have to work harder than anyone else to make it! I'll never catch up otherwise..." -Deku

Deku (final season) saat berhadapan dengan Shigaraki (AFO)
bersama teman-teman sekelas dan hero lainnya

Hal lainnya yang aku suka dari My Hero Academia adalah Sang final boss villain, All For One dan Shigaraki, berhasil dikalahkan karena kerja sama dari banyak orang. Orang terakhir yang menumbangkan AFO adalah Bakugo (Kacchan), teman masa kecil Deku yang dikenal sebagai remaja berbakat dengan kemampuan quirk yang luar biasa. Walau begitu, AFO berhasil 'dikalahkan' oleh Kacchan karena sebelumnya AFO sudah berhadapan dengan Endeavor (pahlawan nomor 1) dan Hawks (pahlawan nomor 2) yang dibantu dengan Tokoyami, Jiro, dan para hero lainnya. Sementara itu, Shigaraki direncanakan untuk bisa dikalahkan oleh Deku dalam duel satu lawan satu setelah sebelumnya sudah berhadapan dengan pro hero lainnya. Ekspektasiku, momen terakhir Shigaraki (dan AFO yang bangkit kembali dalam tubuh Shigaraki) pasti dikalahkan oleh Deku seorang. Tapi ternyata, itu tidak terjadi. Di momen Deku akhirnya berhasil sampai di hadapan Shigaraki dan melayangkan pukulan terakhirnya, Deku dibantu dengan teman-teman kelas A dan para pro hero. Momen ini menggambarkan bahwa kerja sama itu penting, dan sekecil apapun peran kita untuk membantu 'sang tokoh utama', bantuan itu selalu berarti dan memiliki pengaruh. 

Kelas A 'membuka jalan' untuk Deku menuju AFO

Hal lainnya yang menarik perhatianku dari final season ini adalah opening song-nya. Saat aku pertama kali melihat opening song My Hero Academia final season (sebelum akhirnya menonton episode 1 dari final season), aku bertanya-tanya tentang beberapa scene. Ya, ada beberapa scene yang memperlihatkan sejumlah karakter yang tidak kukenal sampai aku bertanya-tanya, siapa sebenarnya dia? Apa peran pentingnya untuk pertarungan di final season ini? Inilah beberapa scene yang aku maksud:

Dannn saat aku akhirnya menonton episode pertama dari final season, wah, aku takjub! Ternyata, karakter-karakter tersebut adalah karakter yang benar-benar bukan siapa-siapa. Pro hero? Bukan. Anggota keluarga dari salah satu murid kelas A? Bukan. Orang-orang yang punya pengalaman pribadi pernah diselamatkan oleh Deku ataupun karakter utama lainnya? Bukan juga. Bahkan, karakter pada scene tangan di awal itu bukan karakter yang sedang berada di Jepang dan tidak merasakan efek langsung dari Shigaraki dan AFO.

Dari sini, aku mencoba membayangkan bagaimana perasaan dan pemikiran tim animasi yang membuat scene untuk opening ini. Bagaimana bisa terpikir untuk menyelipkan karakter 'random' yang bahkan mungkin tidak diberi nama ini? Karakter yang bukan siapa-siapa ini bisa-bisanya muncul di opening final season My Hero Academia yang bahkan Kacchan (yang termasuk bagian dari main character) juga gak muncul di opening versi 1 nya?! WAH! Dari hal ini aku mengambil hikmah bahwa orang yang bukan siapa-siapa pun bisa memiliki screen time-nya sendiri. Se-biasa-biasa ajanya kamu, se-bukan siapa-siapanya kamu, apa yang kamu pikirkan maupun lakukan tetap memiliki efek. Karakter-karakter yang bukan siapa-siapa itu adalah karakter yang berharap All Might menang melawan AFO walaupun ia berada jauh dari Jepang dan tidak terkena efek dari pertarungan tersebut; mereka karakter yang melihat pertarungan Deku vs Shigaraki dan berteriak "ganbare!" untuk Deku; mereka karakter yang tersenyum dan mengucapkan "terima kasih" kepada para hero setelah berhasil mengalahkan AFO dan Shigaraki. Mereka mungkin bukan siapa-siapa bagi para penonton, tapi mereka pasti karakter-karakter yang berharga bagi karakter lain di sekeliling mereka. Dan, hal kecil yang mereka lakukan sesederhana mengucapkan semangat kepada hero yang sedang bertarung bukanlah hal yang sia-sia.

Oke, hal terakhir yang akan kubahas di postingan kali ini tentang hal yang kusuka dari My Hero Academia final season ini adalah:

"If everyone... If all of us... are even a little bit capable of seeing each other as united as one, then... I see a future where Heroes have time to kill. One so bright, we can't help but grin". -Hawks

Bagiku, kata-kata Hawks di atas adalah hal yang paling mengena di hatiku. Dari awal, Shigaraki atau Tenko 'ditarik' ke sisi AFO karena dia tidak menemukan orang yang mau mengulurkan tangan untuknya. Keluarganya menentang impiannya yang ingin menjadi hero, kakak perempuannya 'berkhianat' dan bermuka dua di hadapannya dan keluarga, anjing kesayangan yang selalu berada di sisinya harus 'hancur' karena tangannya sendiri (karena quirk-nya yang baru saja aktif), dan seluruh anggota keluarganya akhirnya terbunuh akibat quirk-nya yang tidak terkendali. Di situasi terpuruk yang tidak memahami apapun dan tidak punya siapapun, seorang nenek yang ia temui di jalan mengurungkan niat untuk menolongnya setelah melihat raut wajah Shigaraki. Dan pada akhirnya, tidak ada satu hero pun yang merangkulnya. Jika saja Hana (kakak Shigaraki) tidak mengkambinghitamkan Shigaraki, jika saja ayah dan ibunya mau mendengarkan Shigaraki tentang impiannya, jika saja nenek yang ia temui di jalan mau merangkulnya. Jika saja mereka semua lebih peduli sedikit saja pada Shigaraki, mungkin ia tidak akan pernah jatuh ke pangkuan AFO dan kekacauan ini tidak akan pernah terjadi.

Dari setiap kejadian yang ada di My Hero Academia, aku rasa semuanya berujung pada kepedulian seperti yang disampaikan oleh Hawks. Jika setiap orang mau memikirkan orang lain, mau peduli dengan orang lain walau sedikit saja, dunia ini mungkin akan menjadi sedikit lebih baik. Siapapun kamu, dan kepada siapapun yang kamu temui. Kepedulian yang kamu berikan ataupun lakukan mungkin kecil dan tidak bermakna apapun untukmu, tapi bisa jadi itu sangat berarti untuk orang lain yang kamu berikan kepedulian itu. Dengan kepedulian, kita mungkin bisa menyelamatkan hidup seseorang. Wah, favorit banget pokoknya kalimat Hawks yang satu ini! :')

Setelah final war selesai, seorang anak (yang kondisinya terpuruk seperti Shigaraki dulu)
'diselamatkan' oleh kepedulian nenek yang berpapasan dengannya di jalan. Nenek itu adalah
nenek yang sebelumnya bersikap tak acuh kepada Shigaraki di momen yang sama dahulu :')

Jadi, begitulah teman-teman beberapa alasanku sangat menyukai My Hero Academia. My Hero Academia mungkin tidak mendapat predikat sebagai anime terbaik, tapi bagiku anime ini menjadi salah satu anime terbaik dan sangat membekas di hati. Oke, segitu saja postingan kali ini ya teman-teman, terima kasih sudah membaca :)


Sabtu, 29 Maret 2025

Resensi Buku: You Are a Badass

Assalamu'alaikum teman-teman! ^_^

Apa kabar? Udah lama banget nih gak ngisi blog lagi. Kali ini aku mau berbagi tentang salah satu buku yang baru aja selesai aku baca, yaitu buku "You Are a Badass." Aku pikir buku ini bakal sama aja kayak buku-buku motivasi atau pengembangan diri lainnya yang pernah aku baca, nothing special. Ternyata aku salah. Aku justru merasa cocok banget sama buku ini!

Sedikit cerita, buku ini aku beli di stand Gramedia yang waktu itu (kalau gak salah tahun 2023) buka di event sekolah. Waktu itu sengaja nyari-nyari buku bacaan untuk program sharing literasi sekolah. Jadi, setiap sebulan berapa kali, guru-guru diminta sharing hasil bacaannya di depan anak-anak. Aku yang gak suka membaca ini tentu kelabakan, akhirnya nyari deh buku yang kira-kira cocok untuk di-sharing-kan sekaligus yang temanya menarik buat aku baca. Akhirnya, buku inilah yang aku beli. Seperti biasa, awalnya baca dengan males-malesan, bahkan gak terlalu tertarik setelah baca beberapa halaman. Sempet aku tinggalin (gak dibaca lagi) berbulan-bulan, sampai akhirnya tiba di bulan Ramadhan. Di tahun itu (dan setahun sebelumnya pun), aku bikin challenge Ramadhan sama salah satu muridku, semacam target melakukan hal produktif di bulan Ramadhan gitu. Nah, muridku kasih challenge baca buku sekian halaman per hari. Dari situ, akhirnya aku mulai baca serius buku ini, dan ternyata waaahh, aku suka sama isinya! Sebenarnya sejak Ramadhan 2024 berakhir, aku stop lagi baca buku ini (bener-bener baca cuma buat target Ramadhan). Tapi di tahun ini, aku berhasil selesaiin buku ini yeay!


Judul buku       : You Are a Badass
Penulis             : Jen Sincero
Penerbit            : BACA 
Tahun terbit      : Juli 2023 (cetakan ketiga)
Tebal halaman  : 315 + xviii halaman

Senin, 01 Januari 2024

Bisik Rindu Untuk Kasih

Kasih, pagi ini aku terbangun dengan tetesan air dari mataku
Semilir angin pagi yang melalui celah jendela menyapu lembut pipiku 
Tanganku mencari-cari telepon genggam untuk mengecek waktu
Aku melihat jamnya, tetapi tidak menemukan apa yang aku mau

Kasih, siang ini terik di rumahku
Cerahnya langit yang terlihat dari sudut pintu, menerbangkan pikirku menjauh
Suasana ini mengingatkanku pada dirimu, penuh ceria namun pilu saat dikenang
Aku memandang wallpaper ponselku, tetapi yang kulihat hanyalah halusinasiku

Kasih, mataku memandang langit sore
Awan bak kapas putih dilukis dengan pancaran sinar mentari senja, indah sekali
Anganku menulis cerita yang ingin kubagi bersamamu
Aku meraih ponsel untuk memotretnya, berharap akan ada yang berbeda

Kasih, malamku diramaikan melodi sendu
Ragaku masih terdiam duduk di atas lembutnya kasur, menikmati udara yang menusuk
Aku masih menggenggam ponselku
Aku berbicara dengannya, seakan kau akan mendengarku

Kasih, dimanakah kamu?
Kasih, aku menunggumu


DSK, 2024

Kamis, 22 Juni 2023

Melepas Rasa

"Aku menyukaimu," kata Ai menatap Mamoru yang baru saja berbalik karena Ai menyebut namanya.

"Apa?" Mamoru memasang wajah bingung. Satu kalimat dari Ai tersebut tidak dapat ia interpretasikan secara langsung. Atau, ia ragu untuk menginterpretasikannya hanya dengan informasi yang ia dengar.

Rabu, 19 April 2023

Dialog Rahasia Antara Diri Sendiri

Menurutmu, kamu orang yang seperti apa?

Hal-hal apa yang kamu senangi? Apa yang bisa membuatmu sedih? Apa yang kamu lakukan ketika kamu kesal dan marah? Apakah kamu orang penuh dengan senyuman, ataukah itu hanya topeng untuk melindungi dirimu sendiri? Apakah kamu orang yang tulus membantu orang lain, ataukah itu kamu semuanya kamu lakukan dengan terpaksa? Apakah kamu berbuat baik karena memang senang melakukannya, ataukah karena orang lain terlanjur melihatmu sebagai orang baik? Apakah kamu orang yang musah jujur pada diri sendiri, atau lebih suka menahan diri karena takut akan kejujuran itu sendiri?

Minggu, 09 April 2023

Buku: Menjadi Guru yang Sukses dan Berpengaruh

 Assalamu'alaikum teman-teman :)

Gimana kabarnya? Semoga senantiasa dalam keadaan sehat baik jasmani, rohani, dan psikisnya, serta hari-harinya dipenuhi rasa syukur dan bahagia :D

Pada post kali ini, saya ingin berbagi tulisan tentang profesi yang sedang saya jalani: guru. Beberapa waktu terakhir, saya merasa berada di kondisi yang cukup berat dalam memikul amanah sebagai guru di sekolah. Amanah 'guru' yang saya sebutkan di sini bukan hanya tentang tugas mengajar atau transfer ilmu, melainkan banyak hal yang lebih luas sesuai dengan tupoksi guru yang ada di lembaga pendidikan yang saya tempati. Tak jarang saya merasa tidak maksimal dalam menjalankan salah satu tugas saya: tidak optimal dalam menyiapkan bahan ajar, tidak efektif dalam memanfaatkan waktu untuk penyampaian materi di kelas, sering terlewat memonitor anak-anak kelas, dan lain-lain. Terkadang, ada satu-dua waktu ketika saya masuk ke dalam kelas tanpa persiapan apapun. Yang penting ke kelas, anak-anak disuruh baca materi aja; masuk kelas terus kasih latihan soal deh biar saya bisa ngerjain yang lain. Ketika sedang berada di titik seperti itu, saya akan menurunkan standar 'guru' di mata saya hanya terbatas pada transfer ilmu saja. Namun, sekarang saya disadarkan kembali bahwa guru yang hanya memikirkan tentang transfer ilmu adalah sosok guru yang tidak diinginkan oleh pendidikan yang baik. Saya menemukan beberapa hal yang dapat membangkitkan kembali semangat saya, setelah (mulai kembali) membaca buku "Menjadi Guru yang Sukses dan Berpengaruh" karya Dr. Muhammad Abdullah Ad-Duweisy.

Sabtu, 01 April 2023

Menilik "Sepasang Sepatu Tua" Karya Sapardi Djoko Damono

Sepasang Sepatu Tua
(karya Sapardi Djoko Damono)

Sepasang sepatu tua tergeletak di sudut sebuah gudang, berdebu

Yang kiri terkenang akan aspal meleleh, yang kanan teringat jalan berlumpur sehabis hujan --keduanya telah jatuh cinta kepada sepasang telapak kaki itu

Yang kiri menerka mungkin besok mereka dibawa ke tempat sampah dibakar bersama seberkas surat cinta, yang kanan mengira mungkin besok mereka diangkat truk sampah itu dibuang dan dibiarkan membusuk bersama makanan sisa

Sepasang sepatu tua saling membisikkan sesuatu yang hanya bisa mereka pahami berdua

(1973)

---

Minggu, 26 Maret 2023

Prestasi dan Pengakuan

Apakah kamu pernah melihat ucapan selamat yang disampaikan oleh suatu organisasi atau lembaga atau institusi tertentu untuk anggotanya yang telah mencapai suatu prestasi? Entah dalam bentuk flyer yang dibagikan di media sosial, spanduk atau baliho yang dipajang di depan perusahaan atau kantor lembaga tertentu, dalam salah satu slide presentasi yang digunakan untuk promosi, atau bahkan disampaikan pada saat sambutan acara tertentu oleh kepala lembaga yang bersangkutan. Ketika melihat atau mendengar ucapan selamat tersebut, biasanya di benak saya akan timbul rasa kagum, "wah keren banget ya orang ini, juga lembaganya!". Namun sejak pertengahan masa kuliah, muncul pandangan lain yang berbeda di hati saya.

Sabtu, 31 Desember 2022

Kilas Balik 2022

 Assalamu'alaikum teman-teman pembaca. Apa kabar? :)

Tidak terasa tahun 2022 akan segera berakhir. Akhir tahun menjadi waktu yang seringkali dijadikan sebagai momen refleksi diri. Apa saja yang sudah saya capai di tahun ini? Perubahan apa yang terjadi di dalam diri saya? Apakah saya sudah melakukan yang terbaik selama ini?

Perjalanan di tahun 2022 pasti dihiasi dengan berbagai momen dan perasaan: hal-hal yang menyenangkan, yang mengharukan, yang menyedihkan, maupun menyebalkan. Saya meyakini bahwa apapun yang sudah terjadi pasti membawa hikmah dan pembelajaran untuk setiap orang. Kebahagiaan mengajarkan kita untuk bersyukur, dan kesedihan melatih kita untuk bisa bangkit menjadi lebih kuat lagi. Kamu pasti juga punya momen yang berkesan 'kan di tahun ini? Di posting kali ini, saya akan berbagi beberapa momen yang paling tak terlupakan untuk saya di tahun ini. Selamat menyimak~

Jumat, 24 Desember 2021

Menyelami, Lalu Jatuh Cinta, Lagi

Apakah kamu pernah jatuh cinta?
Seberapa lama kamu bisa bertahan mencintainya?
Saat kamu memutuskan telah mencintai seseorang atau sesuatu, apakah setiap saat kamu bisa terus mencintainya? Ataukah, akan ada titik di mana kamu merasa bosan dan berpikir, 'rasanya aku sudah tidak secinta dulu'?
Jika kamu sampai ke titik itu, apa yang akan kamu lakukan?

Sabtu, 10 Juli 2021

#AkuDanKimia - Susun Nama dengan Unsur Kimia

Assalamu'alaikum, kawan-kawan pembaca!
Semoga kawan-kawan semua dan keluarga dalam keadaan sehat dan bahagia ya. Jangan lupa tetap jaga kesehatan dengan pola makan, tidur, dan hidup yang teratur, terapkan protokol kesehatan dan saling menjaga untuk orang-orang tersayang di sekeliling kita :)

Pada post kali ini, saya ingin berbagi salah satu pengalaman saya dalam memberikan tugas remedial kimia untuk anak. Ini adalah salah satu tugas favorit saya. Saya menyusun tugas ini dengan harapan anak-anak semakin mengenal pemanfaatan unsur kimia itu sangat luas dan tak jarang yang bisa kita temui dalam kehidupan sekitar kita. Saya memberi judul tugas ini "Aku dan Kimia".

Sabtu, 19 Juni 2021

Menjadi Wali Kelas

Tahun 2018 aku pernah berbisik menginginkannya. Tahun 2019 aku mengurungkan keinginanku. Lalu tahun 2020, akhirnya aku merasakannya.

Sudah lebih dari dua tahun sejak aku lulus dari Departemen Pendidikan Kimia UPI. Sudah hampir genap dua tahun juga, aku menjalani pekerjaan yang kuimpikan sejak masih SD: menjadi seorang guru. Pengalamanku memang belum seberapa, tetapi tahun-tahun pertama mengajar dan mendidik anak-anak di sekolah akan selalu menjadi tahun yang penuh warna. Banyak, banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan. Rasanya, bahkan siswa yang lebih banyak memberikan pelajaran hidup untukku dibanding aku yang mengajarkan materi kimia kepada mereka. Salah satu pembelajaran yang paling berkesan di dua tahun pertamaku sebagai guru adalah merasakan pengalaman menjadi wali kelas.

Senin, 31 Mei 2021

Resensi Buku: Melangkah Searah

Assalamu'alaikum kawan! ^_^

Kembali lagi di post resensi buku hehe. Di post kali ini, aku mau sharing tentang buku Melangkah Searah karya Aji Nur Afifah yang beberapa waktu lalu baru selesai kubaca. Buku ini aku beli secara online. Pertama kali tertarik sama buku ini gara-gara lihat story instagram salah satu adik tingkatku yang menggunakan fitur Q&A untuk meminta rekomendasi buku bacaan ringan seputar pernikahan dari followers-nya. Eh!! Pas banget! kata hati kecilku saat itu wkwk. Iya, pas banget buat aku yang udah mau memasuki usia seperempat abad tapi selalu merasa seperti masih anak kecil. Dari judul "Melangkah Searah" dan hasil searching review buku tersebut, aku memutuskan bahwa buku ini akan cocok untuk tipe orang seperti aku: yang minat bacanya masih rendah (jadi harus mulai dari bacaan ringan dulu) tapi juga sadar butuh pembekalan seputar pernikahan karena umur sudah semakin yaa begitulah wkwk. Dan akhirnya aku beli deh buku ini. Terus gimana, beneran cocok gak bacaannya? Bahasannya ringan gak? Yuks simak dulu resensi buku yang satu ini ^^


Judul buku       : Melangkah Searah
Penulis             : Aji Nur Afifah
Penerbit            : QultumMedia 
Tahun terbit      : Februari 2021 (cetakan kelima)
Tebal halaman  : 210 + x halaman

Selasa, 18 Mei 2021

Tentang Doa (2)

Assalamu'alaikum kawan-kawan pembaca! :D
Semoga kawan-kawan dan keluarga selalu dalam keadaan sehat jasmani dan rohani ya. Gimana kabarmu hari ini? Semoga tidak lupa untuk bersyukur agar bisa merasakan kebahagiaan dari nikmat-nikmat sederhana yang kita dapatkan :)

Di post kali ini, aku mau berbagi cerita seputar doa, kurang lebih masih satu tema dengan post sebelumnya hehe. Tema ini juga merupakan sharing yang aku sampaikan di kegiatan kecil-kecilan teman-teman geng kuliahku, Safari with Astagfirullah :D (iya nama kami geng Astagfirullah wkwk).

Ramadhan tahun kemarin menjadi Ramadhan yang cukup berkesan. Iya, berkesan. Karena untuk pertama kalinya dijalani dengan banyak hal berbeda. Kalau bahasa menyalahkannya, gara-gara pandemi, hehe. Salah satu hal yang paling terasa berbeda buatku adalah pelaksanaan shalat tarawih. Biasanya, suasana tarawih itu ramai, dan kadang jadi ajang buatku bertemu dengan beberapa teman lama di masjid hehe. Bukan sengaja ketemuan sih, tapi lebih ke tiba-tiba berpapasan ketika mau pulang tarawih. Shalat tarawih juga membuatku bisa merasakan shalat berjamaah di masjid dengan banyak orang (iya, kalo biasanya kan gak pernah ke masjid wkwk), bisa menyimak ceramah sebagai reminder sehari-hari, dan lain-lain. Tapi, tahun lalu berbeda. Berbeda sekali. Orang-orang hanya bisa melaksanakan shalat tarawih berjamaah di rumah bersama keluarganya. Dan mungkin banyak para imam baru yang lahir di sana, entah para ayah ataupun anak laki-laki di keluarga, yang untuk pertama kalinya, mengimami shalat berjamaah bersama keluarganya.

Jumat, 30 April 2021

Tentang Doa (1)

Assalamu'alaikum kawan-kawan! :)
Apa kabar puasanya? hehe. Semoga lancar-lancar yaa.

Beberapa hari yang lalu aku sempet membahas tentang doa sama teman kuliahku. Terus jadi introspeksi diri, selama ini aku doa kayak gimana ya? Dalam Islam sendiri, hampir di setiap kegiatan ada doanya. Doa sebelum makan, setelah makan, doa ketika bercermin, doa masuk dan keluar kamar mandi, dan masih banyak lagi. Biasanya sih doa-doa tersebut udah kita kenali dan hafalkan sejak kecil, dan udah biasa kita baca ketika melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Tapi kawan, pernah gak sih kepikiran sebenernya apa sih yang kita minta dalam doa-doa itu?

Kamis, 08 April 2021

"Maafkan Aku, ya..."

"Teeeh, maaf ya teh, lagi-lagi saya gak bisa bantu untuk kegiatan kemarin," kata seorang lelaki berbadan tinggi itu. Lawan bicaranya, yang ia panggil 'Teteh', terlihat terdiam sambil berpikir, sebelum akhirnya menanggapi permintaan maaf lelaki itu.

"Kamu tau gak? Katanya, maaf itu disampaikan ketika kita benar-benar menyesal atas suatu kesalahan yang kita lakukan-," kata si Teteh yang memberi jeda sejenak, kemudian melanjutkan kalimatnya, "dan bertekad dengan kuat, juga berusaha sebaik-baiknya, agar kesalahan itu tidak kita ulangi lagi di waktu mendatang."

"Kamu sadar gak, udah berapa kali kamu minta maaf untuk hal semacam ini? Apa kamu udah berusaha sekeras mungkin untuk gak ngelakuin hal yang sama sebelum akhirnya berujung pada minta maaf dan maaf lagi?" kalimat si Teteh yang menurutku cukup tajam itu disampaikan dengan nada dan intonasi yang begitu tenang.

"Apa maknanya untukmu kalau Teteh memaafkan, tapi kamu sendiri tetap mengulangi kesalahan yang sama?"

Sabtu, 06 Maret 2021

Sore Ini

Sore itu terasa panas. Matahari masih menyapa dengan riangnya, mungkin ia sangat bersemangat hari ini. Alih-alih membuatku menetap di rumah untuk menghindari panasnya, hal ini justru membuatku semakin tak sabar untuk melangkahkan kaki ke luar rumah.

Segera setelah sholat ashar, aku menyiapkan teman setia untuk menemani dalam perjalanan sore ini: sepeda keranjang berwarna biru langit dan sebuah sketchbook. Oh, tentu tidak lupa bersama pensil dan penghapusnya. Ibu mengingatkanku untuk memakai topi karena sinar matahari yang terlihat masih begitu terik. Aku mengiyakan dan meraih topi yang tergantung di balik pintu kamar. Namun, sesaat setelah keluar dari pagar rumah dan mengayuh sepeda, aku melepaskan topi tersebut dan menaruhnya di keranjang sepeda. Aku ingin merasakan matahari! Ayo, matahari, berikan suntikan semangatmu padaku lewat sinarmu sore ini! Kataku bermonolog dalam hati. Sepertinya di sepanjang perjalanan, wajahku tak bisa berhenti tersenyum saking girangnya.

Minggu, 28 Februari 2021

Resensi Buku: The 5 Essential People Skills

Assalamu'alaikum, kawan! :D
Di post kali ini, aku mau berbagi sedikit tentang buku berjudul "The 5 Essential People Skills". Buku ini adalah pemberian dari adik-adik tingkat tercinta saat aku selesai sidang (eh atau wisuda sih?) di tahun 2019 lalu. Terima kasih, Tahu Bulat! Buku yang aku dapatkan dari orang lain itu biasanya lebih bisa meningkatkan minat bacaku dibanding kalau beli buku sendiri (lah kok aneh ya? wkwk). Soalnya jadi ada dorongan, eh ayo udah dikasih buku biar dibaca, ya dibaca dong sampe abis De! Walaupun begitu, mohon maaf nih buku yang satu ini cukup lama aku selesaikan sampai habis haha, baru berhasil selesai dibaca Oktober 2020 (udah lewat setahun lebih sejak dikasih heuheu). Dengan baca judul bukunya, awalnya biasa aja sih, belum yang tertarik-tertarik banget. Eh tapi ada yang sedikit menarik perhatianku dari kalimat yang terpampang di cover-nya. Apa itu? Yuk simak resensi buku The 5 Essential People Skills berikut ini~


Judul buku       : The 5 Essential People Skills
Penulis             : Tim Dale Carnegie Training
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama 
Tahun terbit      : 2018 (cetakan kelima)
Tebal halaman  : 251 + viii halaman

Senin, 01 Februari 2021

Uang dan Hujan

Jika uang bisa membeli segalanya
Aku ingin membeli hujan
Karena ia bisa menahan kepergianmu
Sebentar, untuk tetap di sini

Jika uang bisa membeli segalanya
Aku ingin membeli hujan
Agar ia memenjarakan kita
Sebentar, untuk tetap bersama

Jika uang bisa membeli segalanya
Aku ingin membeli hujan
Yang ditemani matahari
Barangkali, setelahnya kita bisa menatap pelangi

Jika uang bisa membeli segalanya
Aku ingin membeli hujan
Sebab konon ia mustajab
Sejenak, akan kubisikkan segala ingin dan harap

Lalu, kupinta
Hujan, aku ingin uang
Agar bisa terus membelimu
Karena dengan uang, aku hanya ingin hujan

D.S.K, 2021

Rabu, 13 Januari 2021

Apa Kabar, Kamu?

"Hmm.. Basa-basi, Teh," begitu jawaban yang kudengar dari lawan bicara Nana. Bukannya berniat menguping, tapi perbincangan mereka yang posisinya tepat di sampingku memang terdengar jelas. Dan lagi, sepertinya Nana dan adik tingkatnya itu memang sedang berbincang santai saja.

"Bisa-bisanya kamu jawab gitu tanpa ragu," timpal Nana setelah mendapat jawaban yang sepertinya cukup menjengkelkan untuknya. Iya, tadi Nana bertanya, menurutmu, kalau saya tanya 'apa kabar?' ke kamu itu beneran nanya atau basa-basi aja?

"Yaa, kan saya jawab jujur, Teh, sesuai sama pendapat saya," sosok lelaki lawan bicara Nana itu kembali menanggapi. Lalu obrolan mereka kembali memanjang sebab perihal apa kabar tersebut. Obrolan mereka terlihat asyik, tetapi aku malah termenung dengan pertanyaan yang dilontarkan Nana tadi.

Jika pertanyaan itu diajukan padamu, jawaban apa yang akan kamu katakan? Jika kamu menanyakan kabar kepada orang lain, apakah itu karena kamu memang ingin tahu kabarnya, atau hanya sekadar basa-basi?